Devita Rusdy: Pantang Menyerah Jalani Berbagai Lini Usaha, Kini Sukses Bisnis Pariwisata Kapal Phinisi

by
Devita Rusdy

Womensbeauty.id – Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) DKI Jakarta, Devita Rusdy mengemban amanah organisasi sosial yang beranggotakan lintas profesi perempuan. Di bawah arahan Ketua Umum PPLIPI Ibu Indah Suryadharma Ali, ia memimpin berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan dan anak.

Saat ini, kepengurusan PPLIPI DKI Jakarta telah menaungi ratusan anggota dan tengah menyiapkan program charity. Aksi kepedulian sosial berupa bakti sosial yang menyasar masyarakat yang membutuhkan terutama di wilayah DKI Jakarta, tengah disiapkan.

Jalani Bisnis Pariwisata

Devita R Cruise

Namun di luar kesibukan organisasinya, Devita adalah seorang pebisnis tangguh yang berani mengambil risiko. Memasuki usia 42 tahun dengan pengalaman usaha sejak umur 20 tahunan, sejak lima tahun lalu hingga kini ia menaruh fokus utamanya pada bisnis pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengelola kapal wisata phinisi Devita R Cruise dan speedboat, yang melayani wisatawan lokal hingga mancanegara dari Italia, Australia, Spanyol, dan lain-lain, baik melalui layanan private maupun open trip.

“Bisnis kapal kayu ini tantangan besar dan identik dengan pekerjaan laki-laki. Saya sendiri sebenarnya takut laut dan tak bisa berenang. Tapi di sinilah rezeki saya dari laut. Dari yang dulu takut lihat air, sekarang saya justru menikmati suasana sunset dan ketenangan di laut. Saya saya di sinilah tempat saya menjemput rezeki,” papar perempuan yang juga aktif dalam organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan jabatan bidang perdagangan untuk pariwisata.  

Menjalani bisnis pariwisata bahari tentu tak lepas dari kendala, mulai dari imbas isu keamanan kapal di kawasan, dinamika bencana alam seperti gempa, hingga tantangan operasional harian di antaranya perawatan armada yang teratur dan membina SDM kapal. Menjalani bisnis di alam terbuka tentu bukan tanpa kendala.

Kendala yang kerap muncul mulai dari imbas isu keamanan kapal di kawasan, dinamika bencana alam seperti gempa, hingga tantangan operasional harian. “Maintenance kapal kayu phinisi itu rumit, tapi saya nikmati,” imbuh keponakan dari Tantowi Yahya dan Helmy Yahya itu.

Devita Rusdy

Tak berhenti di laut, Devita kini juga mengekspansikan bisnisnya di daratan Labuan Bajo yang juga berkaitan dengan fasilitas pendukung pariwisata laut seperti menyiapkan vila tiga lantai, salon, spa, klinik, hingga kafe. Ia juga berencana ekspansi membuka usaha pariwisata kapal ini di wilayah Lampung yang juga dikenal memiliki pariwisata pantai dan laut yang indah, tidak jauh dari kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan.

Bagi Devita, seluruh perjalanan ini bermuara pada satu makna hidup: keberanian untuk fokus dan mengeliminasi hal yang tidak perlu. Setelah bertahun-tahun gagal dalam berbagai lini usaha seperti fesyen dan bisnis kecantikan hingga entertainment, akibat terbagi fokus di dunia politik dan pergaulan, ia kini memilih untuk menata ulang prioritasnya.

Di penghujung 2025, bak mimpi Devita mendapatkan anugerah terbesar dari Allah Swt dengan kehadiran bayi mungil laki-laki dan perempuan, yang memacu semangatnya untuk terus berkembang dan maju. Kini, dengan menyaring pergaulan dan membatasi diri hanya pada hal-hal yang bermanfaat, Devita menemukan kedamaian hidup: menjemput rezeki dengan tekun, membesarkan anak-anaknya, dan terus berlayar tanpa rasa takut.

Bagi sebagian orang, pendewasaan adalah tentang menambah ekspansi. Namun bagi Devita, memasuki usia kepala empat justru menjadi momen untuk melakukan eliminasi, menyaring mana yang benar-benar memberi makna dan mana yang sekadar riuh tanpa guna.

Setelah bertahun-tahun melintasi berbagai dinamika hidup, mulai dari dunia politik, hiruk-pikuk organisasi, hingga beragam eksperimen bisnis, Devita kini tiba pada fase hidup yang jauh lebih tenang sekaligus fokus. Keramaian yang dulu menjadi dunianya, kini terasa berjarak.

Devita Rusdy

“Dulu rasanya harus selalu rame. Sekarang, kalau ada di tengah keramaian justru seperti berada di dunia lain. Saya mulai takut dengan dinamika pergaulan yang tidak menentu, jadi fokus saya sekarang hanya bisnis yang bermanfaat dan memprioritaskan hidup,” ungkapnya.

Ketangguhan dalam Bisnis. Ketangguhannya dalam mengelola bisnis pariwisata yang berkaitan dengan air ini seolah memanggil kembali jejak garis keturunannya dari sang kakek yang juga seorang pebisnis kapal. Meski pernah gagal dalam berbagai lini usaha, semangat Devita tidak pernah runtuh. Daya juang menjadi identitas utamanya. Ia bukan tipe pemimpi yang mudah trauma ketika jatuh.

“Orang kalau gagal kadang kapok. Kalau saya rugi, ya jalanin lagi. Kuncinya cuma satu: fokus. Dulu tidak fokus karena urus orang terus di organisasi dan politik. Sekarang saya tahu apa yang jadi prioritas hidup,” tegas perempuan tangguh yang berprinsip tidak takut gagal dan berani memulai lagi dalam berbisnis.

Meskipun harus berjuang mandiri tanpa pendamping, Devita memandang hidupnya penuh dengan rasa syukur. Kehadiran buah hati menjadi jangkar utama yang memagari langkahnya agar tak lagi terjebak dalam pusaran pergaulan yang sia-sia. Pelajaran terbesar dari perjalanan hidup seorang Devita adalah keberanian untuk menata ulang arah angin. Ketika fokus telah ditemukan dan rasa takut berhasil ditaklukkan, gelombang setinggi apa pun tak lagi menjadi penghalang untuk terus berlayar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.