dr. S.A. Yulizhar Mattawang, AIFO-K.: Mendirikan Sekolah Ballet Fondu, Wadah Bagi Kelompok Usia Senior untuk Tetap Sehat dan Bahagia

by
Sekolah Ballet Fondu
dr. S.A. Yulizhar Mattawang, AIFO-K, owner Sekolah Ballet Fondu membuka kelas ballet bagi senior baik perempun maupun laki-laki.

Womensbeauty.id – Umumnya ballet identik dengan anak-anak dan penari muda. Namun, kehadiran Sekolah Ballet Fondu mencoba mendobrak stereotip tersebut. Pertama kali berdiri pada tahun 2026, tempat latihan ballet ini digagas oleh seorang dokter yang juga merupakan seorang balerina, dr. S.A. Yulizhar Mattawang, AIFO-K, owner Sekolah Ballet Fondu.  

Nama fondu diambil dari salah satu istilah gerakan dasar ballet yang berarti “melekuk” atau “menekuk”. Gerakan fondu merupakan fondasi awal yang sangat  penting dalam Ballet, baik saat hendak melompat, jinjit (relevé) maupun membentuk pose terbaik.

Berbeda dengan plié di mana kedua kaki melipat sejajar dan menapak di lantai sehingga relatif lebih stabil, fondu adalah posisi yang jauh lebih menantang atau sulit. Dalam posisi fondu, satu kaki menjadi tumpuan dengan posisi melipat/menekuk, sementara ujung jari kaki lainnya menempel pada betis atau lutut. Dari posisi tertekuk ini, penari harus tetap stabil sebelum kemudian meluruskan kaki atau melakukan gerakan berikutnya. 

dr. Yuli memilih nama Sekolah Ballet Fondu karena gerakan fondu ini merupakan kunci utama atau dasar dari kekuatan inti dari tarian ballet. Fondu merupakan gerakan dasar yang melatih keseimbangan tubuh, melatih kekuatan kaki serta mengasah kemampuan pengendalian tubuh. Dengan pengendalian tubuh ini maka seseorang bisa melakukan gerakan secara presisi dari satu pose ke pose berikutnya tanpa kehilangan tumpuan.

“Pada gerakan fondu, satu kaki menekuk, satu kakinya naik ke atas. Posisinya lebih sulit dari plié yang juga merupakan gerakan dasar. Makna fondu adalah pengendalian tubuh untuk keseimbangan tubuh dan kekuatan otot inti,” ujar dr. Yuli.

dr. S.A. Yulizhar Mattawang, AIFO-K, owner Sekolah Ballet Fondu

Gerakan Ballet

Dalam ballet lansia ini, gerakan dasar difokuskan pada kekuatan serta kelenturan. “Beberapa gerakan yang diajarkan antara lain plié, grand plié, relevé, tendu, déterné, jeté, pas de bourrée, hingga port de bras,” papar dr. Yuli, begitu sapaan akrabnya.

Berikut gerakan-gerakan ballet yang biasa diajarkan:

  • Plié, berarti membengkokkan atau menekuk. Gerakan melipat atau menekuk kedua lutut dengan posisi punggung tegak dan pinggul sejajar. Ini adalah gerakan fondasi paling dasar dalam Ballet untuk melatih kelenturan sendi lutut, panggul, serta pergelangan kaki.
  • Grand Plié, artinya menekuk secara penuh (deep bend). Gerakan lanjutan dari plié, di mana lutut ditekuk sejauh mungkin hingga posisi paha hampir menyentuh betis (badan diturunkan secara maksimal ke bawah) sambil mempertahankan postur tubuh tegak.
  • Relevé, artinya terangkat atau meninggi. Gerakan mengaitkan atau mengangkat tumit ke atas hingga berdiri di atas bola kaki (jinjit). Gerakan ini sangat bagus untuk memperkuat otot betis, pergelangan kaki, serta melatih keseimbangan tubuh.
  • Tendu, artinya teregang atau diluruskan (stretched). Gerakan ini meluruskan dan menggeser salah satu kaki ke depan, samping, atau belakang hingga ujung jari kaki berjinjit menyentuh lantai, sementara kaki tumpuan menopang berat badan tetap lurus. Ini melatih perpanjangan otot kaki dan kontrol postur.
  • Déterné, artinya berbalik atau berputar arah. Gerakan berputar setengah atau satu putaran penuh di atas kedua kaki (biasanya dalam posisi jinjit/relevé) untuk mengubah arah posisi tubuh. Gerakan ini melatih koordinasi dan keseimbangan.
  • Jeté, berarti dilemparkan (thrown). Gerakan ini melemparkan/mengangkat satu kaki yang lurus sedikit mengudara (lepas dari lantai) secara cepat dan teratur. Gerakan ini membutuhkan kekuatan otot paha dan melatih respons kardio.
  • Bourréebourrée, berarti gerakan jinjit beruntun dengan langkah-langkah yang sangat kecil dan rapat. Posisi kaki tetap dalam jinjit (relevé) seolah-olah penari berjalan dengan mulus di tempat atau meluncur lembut.
  • Pas de bourrée, berarti langkah berpindah tempat. Gerakan berupa kombinasi tiga langkah kecil (biasanya pola: belakang-samping-depan) yang berfungsi sebagai pendorong atau transisi untuk berpindah posisi dan menghubungkan satu gerakan ke gerakan Ballet lainnya.
  • Port de bras, artinya pergerakan atau posisi lengan (carriage of the arms). Gerakan memindahkan dan mengalihkan posisi lengan dari satu pose ke pose lain secara anggun dan terkontrol. Gerakan ini melatih kekuatan otot lengan, dada, bahu, serta memperbaiki postur tubuh bagian atas.
  • Rond de jambe, berarti gerakan memutar kaki di lantai membentuk pola setengah lingkaran (dari depan, samping, lalu diseret/diputar ke belakang atau sebaliknya). Gerakan ini melatih fleksibilitas dan mobilitas rotasi pada sendi panggul.

Manfaat Kesehatan 

Memasuki usia 40 tahun ke atas, tubuh manusia mengalami penurunan kolagen serta degenerasi otot dan tulang. Hal ini sering memicu keluhan seperti nyeri panggul, pinggang, lutut, salah urat, hingga kondisi sarcopenia (penyusutan massa otot), apalagi jika dalam kesehariannya kurang gerak. “Ballet untuk senior age atau elderly hingga geriatri ini hadir bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk terapi fisik dan mental dengan beragam manfaat,” papar dr. Yuli.

Berikut beberapa manfaat dari ballet yang dapat diperoleh bagi kalangan senior age atau elderly hingga lansia:

  1. Perbaikan Postur dan Keseimbangan: Latihan ballet memperkuat otot dan fascia yang melindungi tulang, sehingga menurunkan risiko terjatuh pada lansia.
  2. Kesehatan Sendi dan Pembuluh Darah: Gerakan stretching dan posenya membantu melenturkan pembuluh darah serta meredakan nyeri sendi.
  3. Stimulasi Otak (Mencegah Alzheimer dan Demensia): Menggabungkan pendengaran musik dengan koordinasi gerakan melatih koneksi otak. Aktivitas ini efektif menjaga daya ingat lansia agar terhindar dari pikun.
  4. Kualitas Tidur dan Kesehatan Jantung: Kombinasi kekuatan otot (strength of muscle) dan kardio yang terukur memperlancar peredaran darah, membantu mengatasi insomnia, dan meningkatkan ketahanan tubuh (endurance).

Konsep Kelas: Tanpa Beban, Tanpa Batasan Gender

Berbeda dengan akademi ballet anak-anak yang memiliki kurikulum ketat dan ujian, kelas di Sekolah Ballet Fondu dikemas secara santai, menyenangkan, dan fokus pada hiburan (refreshing). Selain itu, ballet pada dasarnya bersifat non-gender; laki-laki pun dapat melakukannya karena prinsip ballet sangat baik untuk membina kekuatan otot inti (core muscle) melalui setiap pose gerakannya.

Berikut penjelasan mengenai konsep kelas ballet di Sekolah Ballet Fondu:

  • Inklusif: Ballet terbuka untuk siapa saja tanpa memandang batas usia maupun gender. Laki-laki (bapak-bapak) juga diperbolehkan bergabung, di mana kelas dapat dipisah jika peserta pria sudah mencukupi.
  • Durasi dan Frekuensi: Latihan direkomendasikan 2 kali seminggu dengan durasi 1 jam per sesi. Waktu 1 jam dinilai ideal agar lansia tidak terlalu lelah dan tetap bisa menikmati suasana.
  • Suasana Menyenangkan: Diiringi musik, para peserta dapat berolahraga, healing, berinteraksi sosial, dan berfoto bersama. Efek utamanya adalah memberikan rasa bahagia (happy) dan meningkatkan kualitas hidup di usia senja.

Harapan ke Depan 

Meskipun baru dibuka, Sekolah Ballet Fondu telah memiliki 20 anggota. Sang pendiri, dr. Yuli, berharap Sekolah Ballet Fondu dapat mengedukasi masyarakat luas bahwa ballet tidak mengenal batasan usia dan gender.

“Ke depannya, ada impian besar untuk menggelar event ballet bersama bagi kalangan usia senior, baik laki-laki maupun perempuan, yang melibatkan hingga 50 lansia. Ini untuk membuktikan bahwa age is just a number dan para lansia tetap bisa tampil bugar, elok, tegap, serta sehat melalui ballet,” pungkas dr. Yuli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.