Womensbeauty.id – Di saat sebagian orang membayangkan masa pensiun sebagai fase untuk berdiam diri di rumah, sebuah komunitas di Jakarta justru memilih jalan yang berbeda. Dengan semangat yang terus menyala, Komunitas Arunika membuktikan bahwa usia senja bukanlah alasan untuk berhenti berkarya, melainkan momentum untuk memulai babak baru kehidupan.
Nama Arunika, yang berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti matahari terbit, menjadi filosofi yang dihidupi komunitas ini. Bagi para anggotanya, yang mayoritas berusia di atas 50 tahun, setiap fase kehidupan selalu menghadirkan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan memberi manfaat.
Melalui harmoni angklung, mereka tidak sekadar mengisi waktu purnatugas, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO agar terus hidup dan dikenal lintas generasi.
Berawal dari Lukisan, Bergema lewat Angklung
Komunitas Arunika berdiri pada akhir tahun 2022 sebagai komunitas seni lukis. Semangat baru kemudian tumbuh ketika seni musik angklung resmi dikembangkan sebagai salah satu cabang kegiatan pada 8 Januari 2023 oleh sang pendiri, Ibu Gita.
Menurut Ibu Gita, lahirnya komunitas ini berangkat dari kegelisahan melihat stigma bahwa masa pensiun identik dengan berhenti berkarya. Perjalanan hidupnya turut membentuk cara pandang tersebut. Ia mengawali karier di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), yang kemudian bersama tiga bank BUMN lainnya melebur menjadi Bank Mandiri. Setelah memilih pensiun dini, ia tetap aktif mengajar sebagai dosen sekaligus berkarya sebagai konsultan humas.
“Umumnya orang menganggap kalau sudah pensiun ya tinggal diam di rumah, ‘ngendon’ saja di kamar. Kami tidak mau seperti itu. Kami ingin tetap aktif, tetap mandiri, terus belajar, dan tidak bergantung kepada orang lain,” ujar Ibu Gita.
Semangat berdikari itulah yang kemudian diwujudkan melalui angklung. Selain relatif terjangkau bagi para pensiunan yang harus bijak mengelola dana purnatugas, angklung juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Instrumennya tampak sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian, disiplin, kerja sama, kemampuan saling mendengar, dan rasa saling percaya agar tercipta harmoni.
Budaya Multikultural yang Memeluk Keberagaman
Pada awal pembentukannya, kelompok angklung Arunika didominasi para purnabakti perbankan, khususnya eks-Bank Mandiri beserta empat bank legacy-nya, yaitu Bapindo, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Dagang Negara. Sekitar 70 persen anggota awal berasal dari jaringan tersebut, sedangkan 30 persen lainnya bergabung dari masyarakat umum melalui rekomendasi antaranggota.
Kini Arunika berkembang menjadi komunitas yang inklusif dengan anggota aktif sekitar 35–40 orang. Latar belakang profesi, suku, agama, pendidikan, dan usia yang beragam justru menjadi kekuatan komunitas ini. Meski didominasi perempuan berusia di atas 50 tahun, Arunika juga merangkul anggota usia 40-an hingga generasi muda.
Keberagaman tersebut menjadi modal sosial yang memperkaya komunitas. Di dalam Arunika, setiap orang datang dengan pengalaman hidup yang berbeda, namun dipersatukan oleh kecintaan terhadap seni dan semangat untuk terus bertumbuh bersama.
Melatih Otak, Mengasah Empati, dan Menjaga Semangat

Ketua Komunitas Arunika Angklung, Ira Yales, yang juga purnabakti Bapindo dan kini berprofesi sebagai notaris, mengatakan bahwa bermain angklung memberikan manfaat besar bagi kesehatan fisik, mental, maupun sosial. Selain menghadirkan rasa bahagia dan memperluas pertemanan, angklung juga menjadi sarana melatih daya ingat.
“Komunitas kami menggunakan metode empat titik angklung untuk setiap pemain. Setiap lagu memiliki susunan nada yang berbeda sehingga harus terus diingat. Memegang empat angklung sekaligus di usia di atas 50 tahun memang tidak mudah, tetapi sangat baik untuk melatih otak,” ujar Ira.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menghafal nada, melainkan juga menyatukan puluhan karakter yang berbeda. Banyak anggota sebelumnya pernah menduduki posisi penting di dunia kerja sehingga mereka kembali belajar untuk saling memahami, bersabar, menurunkan ego, dan membangun empati demi menghasilkan harmoni.
“Belajar mengikis ego memang tidak mudah. Kalau suasana hati satu orang sedang kurang baik, bisa memengaruhi yang lain. Namun selama lebih dari dua tahun ini kami belajar saling memahami sehingga kebersamaan tetap terjaga,” tambahnya.
Menembus Panggung ArtJog hingga Mancanegara
Meski berawal sebagai komunitas hobi, kualitas penampilan Arunika tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan latihan rutin setiap hari Senin, mereka membawakan beragam repertoar, mulai dari lagu daerah, karya-karya populer Indonesia, hingga musik mancanegara yang diaransemen untuk angklung.
Salah satu pencapaian penting Arunika adalah terpilih tampil di panggung ArtJog 2026 setelah melalui proses kurasi yang ketat. Untuk dapat tampil di ajang seni bergengsi tersebut, mereka menyusun konsep pertunjukan berdurasi satu jam yang kemudian dinyatakan layak oleh tim kurator.
Selain tampil di berbagai panggung di Indonesia, Arunika juga pernah berpartisipasi dalam festival musik di Uzbekistan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan angklung kepada masyarakat dunia.
Merangkul Generasi Muda
Di tengah derasnya arus budaya populer, Arunika terus melakukan berbagai inovasi agar lebih dekat dengan generasi muda.
Strategi yang dilakukan antara lain menggandeng tim kreatif muda dalam menyusun aransemen lagu, menghadirkan pertunjukan interaktif dengan mengajak penonton memainkan angklung bersama, serta membawa pertunjukan ke berbagai ruang publik seperti kawasan kreatif, pusat kebudayaan, fasilitas umum, dan ruang-ruang komunitas.
Bagi Arunika, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan di atas panggung. Budaya harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, dikenalkan secara menyenangkan, dan dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan.
Misi Melestarikan Warisan Dunia

Komunitas Arunika terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Tidak memiliki latar belakang musik ataupun belum mampu membaca notasi bukanlah penghalang.
“Kami tidak pernah mengatakan seseorang tidak bisa. Kami belajar bersama, saling menunggu, saling membantu, sampai semua bisa memainkan lagu dengan gembira,” kata Ira.
Ke depan, Arunika tidak mengejar menjadi kelompok musik profesional yang berorientasi komersial. Misi utamanya adalah terus menggaungkan angklung, memperluas edukasi budaya, serta mengajak semakin banyak masyarakat mencintai musik tradisional Indonesia.
Berawal dari komunitas seni yang digagas Ibu Gita, Arunika kini tumbuh menjadi ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang persahabatan bagi perempuan dari berbagai latar belakang. Filosofi “Arunika – Ruang untuk Tumbuh” hidup dalam setiap proses belajar, setiap latihan, dan setiap harmoni yang dimainkan bersama.
“Angklung sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terus memainkan, mengenalkan, dan menghidupkannya di ruang-ruang publik agar tetap bergema dari generasi ke generasi,” tutup Ira.
Melalui harmoni angklung, Arunika ingin menunjukkan bahwa masa pensiun bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari ruang baru untuk terus belajar, berkarya, dan memberi manfaat. Pengalaman hidup yang panjang tidak dipandang sebagai masa lalu yang selesai, melainkan sebagai bekal untuk terus menyalakan harapan dan menginspirasi sesama.
Di tangan para perempuan yang memilih tetap bertumbuh, bambu-bambu itu tidak sekadar menghasilkan nada, tetapi juga menyuarakan ketekunan, persahabatan, kepedulian, dan cinta kepada budaya Indonesia.
Bagi Arunika, angklung bukan sekadar alat musik. Ia adalah ruang untuk saling mendengar, saling menunggu, saling menguatkan, dan bertumbuh bersama. Sebab harmoni tidak pernah lahir dari satu nada, melainkan dari banyak perbedaan yang memilih berjalan seirama.
Di setiap getaran bambu, tersimpan keyakinan bahwa seni bukan hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga merawat kesehatan jiwa, mempererat persaudaraan, menjaga warisan budaya, dan menumbuhkan harapan.
Itulah Arunika—Ruang untuk Tumbuh. Sebuah komunitas yang percaya bahwa usia bukanlah batas untuk berkarya, melainkan kesempatan untuk memberi makna. Selama bambu masih bergetar, selama hati masih dipenuhi cinta, angklung akan terus berbicara—menghubungkan generasi, merawat budaya, dan mengingatkan kita bahwa seni, pada hakikatnya, adalah jalan untuk memanusiakan manusia.







