Fanny Wiratma Chandra, Owner Van Sulam Alis & Academy: Sukses di Usia 28 Tahun dengan Aset US$ 1 Juta

by -976 views
Fanny Wiratma Chandra, Owner Van Sulam Alis & Academy

Womensbeauty.id – Di usianya yang masih terbilang muda, 28 tahun, namun Fanny Wiratma Chandra sudah terbilang sukses dalam bisnis yang dijalaninya Van Sulam Alis & Academy. Melalui bisnisnya ini, Fanny telah meraup aset sebesar US$ 1 juta atau setara dengan Rp 10 miliar. Aset tersebut diperolehnya selama 5 hingga 6 tahun menjalani bisnis ini.

Namun, kesuksesan Fanny tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu memperdalam skill, ketekunan dan keseriusan dalam menjalani bisnis. Di awal menjalani bisnis, Fanny sempat merugi. Awalnya, ia membuka usaha salon dengan modal dari pinjaman sebesar Rp 500 juta.

Karena awal berbisnis di bidang kecantikan, Fanny saat itu belum mengetahui betul seluk-beluk dalam bisnis salon tersebut. Akibatnya, ia mempekerjakan banyak karyawan dengan barang-barang salon impor dari Jerman. Sementara untuk mendapatkan pelayanan salonnya Fanny memberikan ‘banting harga’, yakni Rp 50.000 untuk potong rambut dan Rp 35.000 untuk cuci-blow dengan perawatan selama 1-2 jam.

Fanny pun merugi, namun ia tidak patah semangat. Fanny yang memiliki passion di bisnis kecantikan melirik bisnis sulam alis atas saran sang ayah, di tahun 2013. Saat itu, sulam alis sedang booming, namun di tanah air belum banyak yang paham soal sulam alis ini.

Ia akhirnya memperdalam ilmu sulam alis di China dan Korea. Sekembalinya dari belajar, Fanny membuka usaha sulam alis di tahun 2013. Saat itu, sekali sulam alis Fanny mematok tarif Rp 1,5 juta.

“Awalnya sebulan ada 1 customer, lalu 3 customer, 10 customer, hingga ramai-ramainya dalam satu hari bisa mencapai 8-10 customer,” ucap Fanny.

Melihat peluang yang bagus di bisnis sulam alis ini, Fanny pun terus menambah ilmunya di luar negeri. Setiap beberapa bulan sekali ia meng-upgrade ilmunya, tidak hanya di China dan Korea, tetapi juga di Eropa dan Amerika.

Karena itulah, Fanny yakin Van Sulam Alis & Academy memiliki keunggulan seperti bahan yang higienis, bahan herbal yang bisa digunakan oleh umat muslim, selalu ada teknik terbaru, serta memiliki ciri khas berupa standardisasi desain yang diciptakannya sendiri.

Ilmu yang diperoleh Fanny di luar negeri tidak langsung diterapkan di tanah air, tetapi disesuaikan dengan keinginan orang Indonesia. Orang Indonesia menyukai sulam alis yang bertahan lama, 2-5 tahun, sementara orang bule menyukai sulam alis yang hanya bertahan 1 tahun. selain itu, orang Indonesia lebih menyukai warna yang lebih terlihat dan alisnya lebih terlihat ‘art’.

“Kita ada standard hak cipta desain alis yang dibuat sendiri. Belajar dari usaha salon sebelumnya, harus selalu ada diferensiasi antara sulam alis di sini dengan studio lain, agar tidak lagi gagal,” ucap Fanny.

Teknik sulam alis terbaru yang saat ini sedang digemari kaum milenial adalah the ombre brow. Dalam teknik sulam alis ini, alis dibuat dengan gradasi warna sehingga terlihat lebih alami dan natural.

Selain itu, Van Sulam Alis & Academy juga memiliki teknik sulam alis seperti microshading, misty powder, combo brow, microblading 6D, Russian eyebrow. “Jadi keunggulan selain alat, bahan, teknik dan hasil natural, adalah skill yang benar-benar dibutuhkan yang tidak ada di tempat lain, karena kita belajar hingga ke luar negeri,” ucap Fanny.

Dalam setahun, Van Sulam Alis & Academy memperoleh omset Rp 4,8 miliar. Untuk mencapai omset, strategi yang dijalankan dalam berinovasi dan menciptakan keunggulan yang tidak ditemukan di tempat lain. Karena itulah, Van Sulam Alis sudah banyak menangani customer dari artis hingga masyarakat. Dalam sehari, setiap cabang bisa menangani 8-10 customer.

Selain itu, Fanny yang awalnya mengontrak untuk tempat usahanya ini, pada tahun 2015 bisa membeli ruko di Pakuwon City, Surabaya. Tahun 2017, ia membeli ruko di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

17 Cabang

Saat ini Van Sulam Alis & Academy sudah memiliki 17 cabang di tanah air. Di Jakarta, Van Sulam Alis terdapat di Pantai Indah Kapuk (PIK), Kemang, Tanjung Duren, Gandaria, Cengkareng, Pasar Baru, Kalibata, dan Jelambar. Cabang lain ada di Surabaya, Ponorogo, Bekasi, Serpong, Bali, Medan, Balikpapan, Tarakan, dan Makassar.

Untuk menjadi mitra cukup membayar Rp 75 juta. Mitra akan mendapatkan lisensi nama Van Sulam Alis selama 2 tahun, royalty fee sebesar 12,5 persen dari omset, jasa, alat dan bahan yang dibeli putus. Alat dan bahan merupakan impor dari Korea, Taiwan dan Amerika.

Mitra juga mendapatkan  satu orang untuk dilatih menjadi guru sekaligus ahli sulam, serta program komputer. Mitra akan mendapatkan omset BEP dalam waktu 6-12 bulan saja.

“Setiap cabang ada 2-3 karyawan. Enaknya bisnis sulam tidak membutuhkan tempat besar. Biayanya juga Rp 3-5 juta untuk sekali pengerjaan selama dua jam,” ujar Fanny.  

Membuka Akademi

Di tahun 2013 itu pula, Fanny juga membuka lembaga kursus sulam alis. Hal tersebut sesuai dengan visi dan misinya yakni menjadikan perempuan mandiri dan berpenghasilan sendiri.

Dalam membuka kursus, Fanny tidak asal buka. Para peserta kursus mendapatkan sertifikat dari Dispendik, berikut ijazah internasional resmi dari Academy Korea.

Fanny mengatakan, saat ini ia juga sedang fokus mengembangkan akademi sulam alis dan teknik sulam lainnya.

“Alumni kita berpeluang menciptakan bisnis sejenis dengan ciri khas masing-masing. Modalnya tidak besar, bisa buka di rumah. Semakin banyak jam terbang, semakin bagus,” jelas Fanny.

Untuk mengikuti kursus, biayanya sebesar Rp 3-5 juta untuk kursus selama dua hari dan langsung bisa praktik. Sementara untuk kursus paket lengkap selama satu minggu atau 12 kali pertemuan, biayanya Rp 35 juta.

Dalam sebulan, setiap cabang Van Sulam Alis & Academy menerima peserta kursus sebanyak 10-15 orang, baik dari masyarakat umum maupun dokter. Setelah lulus, peserta diberi kesempatan mengikuti study tour ke Cell Line Academy di Korea selama lima hari sehingga mendapatkan ilmu sulam alis dari pakarnya.

“Untuk peserta kursus, sebaiknya pilih lembaga yang jelas dan memberikan sertifikat dengan nomor resmi dari Diknas. Pengajaran juga punya standardisasi sehingga tahu dasar teknik sulam dan warna sesuai warna kulit. Perhatikan juga hasil sulam guru pengajar, yang tidak hanya bagus before-after tetapi juga setelah peel-off seminggu setelahnya yang hasilnya permanen,” jelas Fanny. 

Ke depan, ia juga akan terus mengembangkan teknik sulam alis seperti the ombre brow yang semakin bervariasi, yang merupakan kombinasi teknnik shading alis. Van Sulam Alis juga menyediakan sulam lainnya dan inovasi treatment lain, sesuai standardisasi Van Sulam Alis.

Di antaranya sulam bibir, sulam eyeliner, sulam lipatan mata, sulam belah dagu, sulam lesung pipi, sulam lip tint, sulam blush on, sulam wajah. Van Sulam Alis juga menyediakan eyelash extension, keratin lash lift, last tin, last regrowth, ultrasonic Vit C, V shape mummy mask, brow henna dan easy removal.

“Target saya, tetap jadi yang terbaik dan mendapatkan kepercayaan masyarakat Indonesia. Tim kita banyak, termasuk para dokter. Kita juga menyediakan alat sulamnya, kita trading dengan mendatangkan dari luar,” ucap Fanny yang ke depan juga ingin berinvestasi membuka aplikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *